Sabtu, 05 Mei 2012

hubungan bilateral bisnis indonesia dengan negara lain

INDONESIA - AMERIKA MENINGKATKAN BISNIS KELAUTAN .PERIKANAN Hubungan kerja sama Indonesia dengan Amerika Serikat di sektor kelautan dan perikanan semakin luas, termasuk pengelolaan perikanan berkelanjutan dan adaptasi perubahan iklim. Hal tersebut terkait juga dengan penanggulangan kerusakan lingkungan dan penanganan bencana alam. Pemanfaatan potensi sumber daya kelautan dan perikanan berkesinambungan dan menjaga kelestariannya. KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) mengupayakan peningkatan produktivitas sumberdaya kelautan dan perikanan melalui industrialisasi. Strategi pengembangan komoditas dan produk kelautan dan perikanan berbasis pasar, pengembangan kawasan sentra-sentra produksi, pengembangan konektivitas, pengembangan iklim usaha dan investasi, “Kebijakan dalam rangka percepatan pembangunan ekonomi berbasis kelautan dan perikanan, yang pada akhirnya akan mendukung tercapainya blue economy,” Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Sharif C. Sutardjo mengatakan kepada Business News (19/4). Kerja sama bilateral kedua negara telah diimplementasikan melalui program Indonesia Marine and Climate Support (IMACS). Realisasinya merupakan bantuan hibah Amerika Serikat melalui USAID. Berbagai kemajuan telah dicapai program IMACS dalam kerangka penguatan kelembagaan, pengelolaan perikanan berkelanjutan. ‘’Adaptasi perubahan iklim berkontribusi positif bagi pengembangan kapasitas sumber daya manusia kelautan dan perikanan”. Program IMACS dapat memperkuat kapasitas sumber daya KKP dalam perumusan kebijakan, mengakselerasi kemampuan KKP baik pada level pusat maupun daerah. Selain itu, penerapan Pengelolaan Perikanan Berbasis Ekosistem, sistem perizinan dan penegakan hukum bisa berjalan efektif. Kerjasama untuk eksplorasi laut dalam yang dilaksanakan melalui Indonesia Exploration’Sangihe Talaud Region (INDEX SATAL 2010). Program INDEX SATAL yang merupakan kerjasama eksplorasi laut dalam di kawasan Laut Sulawesi merupakan salah satu kerjasama eksplorasi terbaik yang pernah dilaksanakan oleh kedua negara. Kerjasama ini sangat penting mengingat keterbatasan kemampuan pihak Indonesia dalam penguasaan teknologi. Sehingga KKP merasa tepat untuk bekerja sama sembari belajar dari pihak lain, termasuk Amerika. Kerjasama bilateral tersebut dapat menjadi pijakan bagi kedua negara untuk melanjutkan kerja sama kemitraan yang lebih erat dalam bidang teknologi kelautan dan eksplorasi laut dalam. “Kerja sama ini dapat berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan di pentas dunia internasional”. Kerjasama mendapat dukungan dari Kementerian Riset dan Teknologi RI yang dikokohkan melalui kerangka Sidang Komisi Bersama RI-AS di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam bidang riset dan teknologi kelautan. Pada 14 Mei 2012 akan ada pertemuan JCM RI-AS di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Jakarta. “Kami akan mengusulkan pembentukan tiga kelompok kerja, diantaranya Kelompok Kerja Riset Kelautan dan Keanekaragaman Hayati”. Sementara itu, Duta Besar Amerika untuk Indonesia Scot Marciel menjelaskan peran National Oceanic Atmospheric Administration (NOAA). Kerja sama bilateral RI-AS dalam pembangunan kelautan dan perikanan dinaungi NOAA. Kerjasama difokuskan pada penguatan kapasitas dalam rangka memerangi IUU Fishing, meningkatkan Port State Measure, menguatkan kapasitas Kementerian Kelautan dan Perikanan. “Pemerintah Amerika memberi pelatihan dalam rangka memperkuat kerjasama dalam Program Sea Grant Partnership,” Scot mengatakan kepada Business News (19/4). Sementara itu, Panitia Nasional (Panas) Penyelenggaraan Sail Morotai kian mematangkan persiapan acara. Pemantauan terhadap sarana prasarana seperti, pelabuhan, substansi acara dipastikan berjalan lancar. Panitia memantau sejauh mana dari perkembangan dan persiapan Sail Morotai yang puncak acaranya akan diselenggarakan pada 15 September 2012. Masing-masing bidang kegiatan melaporkan mengenai perkembangan dan kendala. Sebanyak 16 Kementerian/Lembaga terlibat dalam kegiatan Sail 2012, seperti KKP, Kemenko Kesra, Kementerian PertahananKemen PU, Kemenpora, Kemenko Kes, Mabes TNI, TNI dan POLRI. Pengerjaan fasilitas di lokasi acara puncak Sail Morotai 2012 baru mencapai 30 persen, meliputi pembersihan lokasi dan pengurukan tanah dasar. “Terkait pasokan listrik, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baru mencapai 80 persen. Sisanya 20 persen dalam proses pembangunan, terutama jaringan tiang listrik ke desa-desa dan kecamatan,” Sekretaris Jenderal KKP Gellwynn Jusuf mengatakan kepada Business News (19/4) Akomodasi dan Fasilitas Umum melaporkan mengenai kesiapan Pulau Morotai, yakni telah tersedia enam hotel kelas melati kapasitas 90 kamar, 15 rumah type 45 (listrik, pemanas air dan ac). Kapal Pelni berkapasitas sekitar 500 kamar dapat menampung hingga 1000 orang. Homestay 50 rumah dapat menampung 250 orang serta resort yang dilengkapi 25 kamar yang dapat menampung hingga 100 orang. Polri yang membawahi bidang Pengamanan menyatakan kesiapannya dalam menjaga dan mengamankan peserta selama kegiatan dengan mengamankan lokasi kegiatan serta melaksanakan patroli dan penjagaan. Polri menerjunkan sebanyak 1.153 personel berasal dari Polda Maluku Utara dan 72 personel dari Mabes POLRI. Kementerian Pekerjaan Umum membawahi bidang fasilitas sarana dan prasarana melaporkan terkait kemajuan kegiatan diantaranya di bidang Sumber Daya Air. “Pembangunan intake Air Baku 60 Lt/dtk dari Sungai Mangere dan pipa transmisi dengan total dana Rp20 Milyar”. Sumber : www. businessnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar